Categories: Berita

Pasal Penghinaan Presiden Dibatalkan MK, Bagaimana Pengaruhnya terhadap Kebebasan Berpendapat di Era Demokrasi

Isu pasal penghinaan presiden dibatalkan MK kembali ramai dibicarakan publik setelah muncul berbagai diskusi mengenai keberadaan pasal serupa dalam KUHP baru. Topik ini selalu sensitif karena berada di persimpangan antara perlindungan martabat kepala negara dan jaminan kebebasan berpendapat warga negara. Setiap kali pasal ini dibahas, reaksi masyarakat hampir selalu terbelah: ada yang mendukung demi menjaga wibawa negara, ada pula yang menolak karena khawatir membuka ruang kriminalisasi kritik.

Bagi banyak orang, ingatan tentang putusan Mahkamah Konstitusi yang membatalkan pasal penghinaan presiden di masa lalu masih sangat kuat. Putusan tersebut kerap dijadikan simbol kemenangan kebebasan berekspresi dalam sistem demokrasi Indonesia. Namun, ketika KUHP baru memuat kembali norma yang dianggap mirip, publik kembali bertanya: apakah pasal penghinaan presiden masih berlaku, apa bedanya dengan yang dulu dibatalkan, dan sejauh mana negara menjamin kritik tidak dibungkam. Artikel ini akan mengulas secara panjang, santai, dan komprehensif agar pembaca memahami duduk persoalan tanpa bias.

Latar Belakang Pasal Penghinaan Presiden dalam Sejarah Hukum

Untuk memahami kenapa pasal penghinaan presiden dibatalkan MK menjadi isu penting, kita perlu melihat sejarahnya. Dalam KUHP lama peninggalan kolonial, terdapat pasal-pasal yang secara khusus mengatur penghinaan terhadap presiden dan wakil presiden. Pasal ini menempatkan kepala negara pada posisi yang sangat dilindungi secara pidana, bahkan lebih tinggi dari warga negara biasa.

Dalam praktiknya, pasal tersebut kerap dipersoalkan karena dianggap multitafsir dan berpotensi mengekang kebebasan berpendapat. Kritik, satire, atau ekspresi politik bisa dengan mudah ditarik ke ranah pidana jika dianggap “menghina”. Kondisi inilah yang mendorong pengujian pasal tersebut ke Mahkamah Konstitusi.

Putusan Mahkamah Konstitusi yang Membatalkan Pasal

Momen penting terjadi ketika Mahkamah Konstitusi memutuskan bahwa pasal penghinaan presiden dalam KUHP lama bertentangan dengan UUD 1945. MK menilai pasal tersebut tidak sejalan dengan prinsip persamaan di hadapan hukum dan kebebasan berpendapat.

Putusan ini menegaskan bahwa presiden sebagai pejabat publik harus siap menerima kritik, bahkan kritik yang keras sekalipun, selama tidak mengarah pada fitnah atau ujaran kebencian yang jelas. Sejak saat itu, istilah pasal penghinaan presiden dibatalkan MK menjadi rujukan utama dalam diskusi hukum dan demokrasi di Indonesia.

Makna Penting Putusan MK bagi Demokrasi

Pembatalan pasal tersebut tidak hanya berdampak pada aspek hukum pidana, tetapi juga memiliki makna simbolis bagi demokrasi. Putusan ini menegaskan bahwa kekuasaan tidak boleh kebal dari kritik dan bahwa hukum pidana bukan alat untuk membungkam suara publik.

Banyak aktivis dan akademisi menilai keputusan ini sebagai tonggak penting kebebasan sipil. Ia menjadi pengingat bahwa dalam negara demokratis, kritik terhadap penguasa adalah bagian dari kontrol publik, bukan ancaman.

Munculnya Pasal Serupa dalam KUHP Baru

Kontroversi kembali mencuat ketika KUHP baru disahkan dan memuat ketentuan mengenai penghinaan terhadap presiden dan lembaga negara. Meski redaksinya berbeda, substansinya dianggap oleh sebagian pihak mirip dengan pasal yang dulu dibatalkan MK.

Di sinilah publik kembali mempertanyakan: apakah pasal penghinaan presiden kuhp baru melanggar semangat putusan MK, atau justru sudah disesuaikan agar tidak bertentangan dengan konstitusi.

Penjelasan Pemerintah soal Pasal di KUHP Baru

Pemerintah menegaskan bahwa pasal dalam KUHP baru tidak sama dengan pasal lama yang dibatalkan MK. Menurut penjelasan resmi, pasal tersebut memiliki batasan ketat dan tidak dimaksudkan untuk mengkriminalisasi kritik.

Salah satu perbedaan yang sering disorot adalah adanya unsur delik aduan. Artinya, proses hukum hanya bisa berjalan jika ada pengaduan langsung dari pihak yang merasa dirugikan, bukan inisiatif aparat penegak hukum semata.

Apakah Pasal Penghinaan Presiden Masih Berlaku

Pertanyaan apakah pasal penghinaan presiden masih berlaku menjadi sangat relevan dalam konteks ini. Jawabannya tidak sesederhana ya atau tidak. Pasal lama yang dibatalkan MK sudah tidak berlaku, namun KUHP baru memperkenalkan norma baru dengan formulasi berbeda.

Secara formal, pasal dalam KUHP baru berlaku setelah masa transisi. Namun, secara substantif, pasal ini masih menjadi perdebatan apakah benar-benar sejalan dengan putusan MK atau berpotensi menghidupkan kembali semangat lama.

Perbedaan Pasal Lama dan Pasal Baru

Perbedaan utama antara pasal lama dan pasal baru terletak pada rumusan dan pembatasannya. Pasal lama bersifat absolut dan mudah digunakan, sedangkan pasal baru diklaim lebih spesifik dan terbatas.

Namun, kritik tetap muncul karena istilah “penghinaan” masih dianggap subjektif. Tanpa definisi yang sangat jelas, potensi multitafsir tetap ada, meski sudah diberi pembatasan.

Pro Kontra Pasal Penghinaan Presiden

Diskusi pro kontra pasal penghinaan presiden hampir selalu membelah opini publik. Kelompok pro berargumen bahwa setiap negara perlu melindungi martabat simbol negara, termasuk presiden, dari serangan yang bersifat merendahkan.

Di sisi lain, kelompok kontra menilai bahwa presiden sebagai pejabat publik harus siap dikritik. Mereka khawatir pasal ini bisa menjadi alat pembungkaman, terutama di tengah dinamika politik yang panas.

Kekhawatiran Kriminalisasi Kritik

Salah satu kekhawatiran terbesar adalah potensi kriminalisasi kritik. Dalam praktik, garis antara kritik dan penghinaan bisa sangat tipis, terutama di ruang digital yang penuh ekspresi spontan.

Pengalaman masa lalu membuat publik waspada. Pasal yang multitafsir berpotensi digunakan secara selektif, tergantung konteks politik dan kekuasaan yang sedang berkuasa.

Perspektif Akademisi Hukum Tata Negara

Banyak akademisi hukum tata negara menekankan pentingnya konsistensi dengan putusan MK. Menurut mereka, semangat pembatalan pasal lama harus menjadi rujukan utama dalam merumuskan norma baru.

Jika norma baru dianggap bertentangan secara substansi, bukan tidak mungkin akan kembali diuji ke Mahkamah Konstitusi.

Kebebasan Berpendapat dalam Konstitusi

UUD 1945 secara tegas menjamin kebebasan berpendapat dan berekspresi. Hak ini merupakan pilar utama demokrasi. Setiap pembatasan harus dilakukan secara ketat, proporsional, dan jelas alasannya.

Dalam konteks ini, pasal penghinaan presiden harus diuji apakah benar-benar memenuhi prinsip pembatasan yang sah atau justru berlebihan.

Perbandingan dengan Negara Demokrasi Lain

Beberapa negara demokrasi masih memiliki aturan terkait penghinaan terhadap kepala negara, namun penerapannya sangat jarang dan biasanya bersifat simbolik. Banyak negara lain justru telah menghapus pasal semacam ini karena dianggap tidak relevan.

Perbandingan ini sering dijadikan argumen oleh kelompok yang menolak keberadaan pasal tersebut di Indonesia.

Peran Media dan Masyarakat Sipil

Media dan masyarakat sipil memiliki peran penting dalam mengawal implementasi pasal ini. Pengawasan publik dapat mencegah penyalahgunaan dan memastikan pasal tidak digunakan di luar tujuan yang dinyatakan.

Diskusi terbuka dan edukasi hukum menjadi kunci agar masyarakat memahami hak dan batasannya.

Potensi Uji Materi ke MK di Masa Depan

Melihat dinamika yang ada, tidak menutup kemungkinan pasal dalam KUHP baru kembali diuji ke Mahkamah Konstitusi. Jika dianggap bertentangan dengan konstitusi atau putusan MK sebelumnya, MK memiliki kewenangan untuk membatalkannya.

Inilah mekanisme checks and balances dalam sistem hukum Indonesia.

Dampak bagi Aktivis dan Jurnalis

Aktivis dan jurnalis termasuk kelompok yang paling terdampak oleh isu ini. Mereka sering berada di garis depan kritik terhadap kebijakan publik. Kejelasan hukum sangat penting agar mereka bisa bekerja tanpa rasa takut.

Ketidakjelasan batas kritik dan penghinaan bisa menciptakan efek jera yang berbahaya bagi demokrasi.

Ruang Digital dan Tantangan Baru

Di era media sosial, ekspresi publik menjadi lebih luas dan cepat. Pasal penghinaan presiden dalam konteks digital menghadirkan tantangan baru, karena konten bisa viral dan ditafsirkan berbeda oleh banyak pihak.

Regulasi hukum harus mampu mengakomodasi realitas ini tanpa mematikan kebebasan berekspresi.

Edukasi Publik tentang Kritik yang Bertanggung Jawab

Di sisi lain, masyarakat juga perlu diedukasi tentang kritik yang bertanggung jawab. Kebebasan berpendapat bukan berarti bebas menghina atau menyebar fitnah.

Pendidikan hukum dan literasi digital menjadi penting agar ruang publik tetap sehat.

Refleksi atas Putusan MK dan KUHP Baru

Pasal penghinaan presiden dibatalkan MK adalah pelajaran penting bahwa hukum harus adaptif terhadap nilai demokrasi. KUHP baru seharusnya tidak mundur dari capaian tersebut.

Refleksi ini penting agar pembaruan hukum benar-benar membawa kemajuan, bukan sekadar perubahan redaksional.

Secara historis, pasal penghinaan presiden dibatalkan MK merupakan tonggak penting bagi kebebasan berpendapat di Indonesia. Kehadiran pasal serupa dalam KUHP baru memunculkan kembali perdebatan lama tentang batas kritik dan perlindungan martabat negara.

Jawaban atas pertanyaan apakah pasal ini akan menjadi ancaman atau justru sekadar simbol perlindungan sangat bergantung pada implementasi dan pengawasan publik. Demokrasi yang sehat membutuhkan hukum yang adil, jelas, dan tidak digunakan untuk membungkam suara kritis.

FAQ

Apa yang dimaksud pasal penghinaan presiden dibatalkan MK?
Itu merujuk pada putusan Mahkamah Konstitusi yang membatalkan pasal penghinaan presiden dalam KUHP lama karena bertentangan dengan UUD 1945.

Apakah pasal penghinaan presiden masih berlaku sekarang?
Pasal lama sudah tidak berlaku, namun KUHP baru memuat ketentuan baru dengan rumusan berbeda yang masih diperdebatkan.

Apa perbedaan pasal lama dan pasal di KUHP baru?
Pasal baru diklaim lebih terbatas dan bersifat delik aduan, berbeda dengan pasal lama yang bersifat umum dan mudah diterapkan.

Mengapa pasal ini menuai pro kontra?
Karena berada di antara perlindungan martabat presiden dan kebebasan berpendapat warga negara.

Apakah pasal di KUHP baru bisa dibatalkan MK?
Bisa, jika ada pihak yang mengajukan uji materi dan MK menilai pasal tersebut bertentangan dengan konstitusi.

Adhi Saputra

Hobi sepakbola dan rutin mengikuti berita olahraga juga mendalami dunia teknologi dan isu-isu nasional terbaru. Temukan di sini tulisan artikel saya selengkapnya.

Share
Published by
Adhi Saputra

Recent Posts

Nonton Culinary Class Wars Season 2: Jadwal Episode Lengkap, Review Tantangan Kuliner, dan Alasan Mengapa Wajib Ditonton oleh Pecinta Masak

Nonton Culinary Class Wars Season 2 menjadi salah satu topik yang paling ramai dicari oleh…

2 hours ago

Harga Samsung Galaxy A07 5G Terbaru di Indonesia + Spesifikasi Lengkap dan Alasan Ponsel Ini Layak Dibeli di 2026

Harga Samsung Galaxy A07 5G menjadi salah satu topik yang paling banyak dicari oleh pengguna…

2 hours ago

No Tail to Tell Kapan Tayang? Ini Jadwal Resmi Penayangan, Sinopsis Lengkap Cerita, dan Alasan Drakor Ini Jadi Salah Satu yang Paling Ditunggu Penonton

Pertanyaan no tail to tell kapan tayang belakangan ini semakin sering muncul di mesin pencarian…

1 day ago

Renungan Harian Katolik 15 Januari 2026 sebagai Refleksi Iman untuk Menjalani Hidup Sehari-hari dengan Kasih, Pengharapan, dan Kesetiaan

Setiap hari, banyak umat mencari renungan harian katolik 15 januari 2026 bukan sekadar untuk dibaca…

1 day ago

Surat Berharga Komersial Adalah Instrumen Keuangan Penting yang Kini Mulai Banyak Dibicarakan di Kalangan Pelaku Pasar dan Investor

Belakangan ini, topik pasar keuangan kembali ramai dibicarakan, terutama setelah beberapa bank dan korporasi besar…

2 days ago

Kasus Korupsi Pajak Terbaru Kembali Terbongkar dan Mengguncang Kepercayaan Publik terhadap Sistem Perpajakan Nasional

Isu perpajakan selalu menjadi topik sensitif di Indonesia karena menyangkut hajat hidup orang banyak. Pajak…

2 days ago

This website uses cookies.